Teranusantara.com, JAKARTA – Sektor pertanian dan sistem pangan menjadi tantangan perubahan iklim global terbesar karena mengontribusi hampir sepertiga emisi gas rumah kaca (GRK) dunia. Namun, dampaknya sangat besar itu masih belum terpetakan di tingkat petani dan lahan.
Perubahan penggunaan lahan, peternakan, dan produksi tanaman menjadi penyumbang utama emisi—jauh melampaui sektor transportasi yang hanya menyumbang sekitar 5% dari total jejak emisi sektor pangan (Our World in Data, 2022).
Urgensi ini semakin meningkat mengingat sektor pertanian mendorong sekitar 75% deforestasi global (Earth.org, 2024), yang berkontribusi sekitar 25–30% emisi GRK global ketika dampak perubahan penggunaan lahan dan aktivitas budidaya turut diperhitungkan (Our World in Data, 2021).
Meski demikian, sebagian besar perusahaan masih bergantung pada estimasi agregat, sehingga meninggalkan celah kritis dalam pemahaman emisi akibat perubahan penggunaan lahan, praktik pertanian, dan penyimpanan karbon.
Kondisi ini pada akhirnya meningkatkan risiko regulasi, finansial, dan reputasi bagi pelaku usaha.
Tantangan ini semakin diperparah oleh temuan bahwa 82% target Net Zero global masih belum terverifikasi, terutama akibat keterbatasan data emisi Scope 3 (PwC, 2025). Ketiadaan data yang terverifikasi di tingkat petani membuat perusahaan hampir tidak mungkin mengukur, mengelola, dan menurunkan dampak iklim mereka secara akurat.
“Dari perspektif teknologi dan sistem, salah satu tantangan terbesar yang kami lihat adalah terfragmentasinya data di tingkat petani di sepanjang rantai pasok,” kata Furqonuddin Ramdhani, Co-Chief Product Technology Officer Koltiva, perusahaan agritech Indonesia-Swiss.
Menurutnya, informasi krusial mengenai penggunaan pupuk, pengelolaan tanaman, input energi, dan perubahan penggunaan lahan sering kali dikumpulkan secara tidak konsisten atau bahkan tidak tersedia sama sekali.
Tanpa data yang andal dan interoperabel dari sumbernya, perusahaan akan kesulitan mengidentifikasi titik emisi utama, menerapkan intervensi yang tepat sasaran, atau memenuhi komitmen iklim dan regulasi dengan percaya diri.
“Fokus kami adalah membangun sistem berskala besar yang mengintegrasikan intelijen geospasial dengan data lapangan terverifikasi, sehingga data emisi tidak hanya terlihat, tetapi juga dapat digunakan untuk pengambilan keputusan nyata,” ujar Furqonuddin.
Emisi di Tingkat Petani
Ia mengatakan bahwa Koltiva menghadirkan solusi untuk menjadikan emisi yang sebelumnya tak terlihat menjadi terukur, terverifikasi, dan dapat ditindaklanjuti. Melalui platform KoltiTrace MIS, pelaku agribisnis dan perusahaan pangan kini dapat memantau emisi di tingkat petani, mengidentifikasi titik risiko utama, serta merancang intervensi berwawasan iklim yang selaras dengan standar internasional.
Mengukur emisi secara akurat di tingkat petani masih menjadi tantangan besar bagi perusahaan pangan dan pertanian. Untuk menjawab tantangan ini, semakin banyak perusahaan mengadopsi kombinasi pemantauan geospasial, citra satelit, dan pengumpulan data lapangan guna mengidentifikasi hotspot emisi, melacak perubahan penggunaan lahan, dan memverifikasi penyimpanan karbon.
Dengan mengintegrasikan data lapangan terkait praktik budidaya, penggunaan pupuk, konsumsi energi, dan pengelolaan ternak dengan standar pelaporan global seperti GHG Protocol, pedoman IPCC, dan SBTi FLAG, perusahaan dapat memperoleh estimasi emisi FLAG dan perubahan stok karbon berbasis lahan yang kredibel dan terverifikasi.
Hal ini menjadi fondasi yang kuat bagi perhitungan emisi yang patuh regulasi serta penetapan target iklim berbasis sains.
Informasi ini memungkinkan perusahaan agribisnis untuk memahami dampak iklim mereka secara lebih menyeluruh, mendukung kepatuhan terhadap regulasi deforestasi dan rantai pasok seperti EU Deforestation Regulation (EUDR), serta mengeksplorasi peluang penerapan pertanian regeneratif dan intervensi rantai pasok berkelanjutan.
Sebagai contoh, sejumlah perusahaan memanfaatkan platform seperti Land Use Tracker Koltiva (modul GHG dan EUDR) untuk memetakan perubahan penggunaan lahan dan memantau deforestasi, integrasi Cool Farm Tool untuk menangkap praktik di tingkat petani dan menghitung emisi Scope 3, serta Agricarbon Tracker untuk mengestimasi biomassa dan stok karbon secara luas—mengubah data yang sebelumnya tidak terlihat menjadi insight untuk pengambilan keputusan berwawasan iklim.
DATA KREDIBEL
Meskipun satelit dan sensor memberikan visibilitas luas di sepanjang rantai pasok pertanian yang kompleks, teknologi tersebut pada dasarnya menangkap pola dan anomali, bukan praktik mendasar yang mendorong emisi di tingkat petani.
Untuk menerjemahkan pengamatan jarak jauh menjadi data iklim yang andal, perusahaan perlu menghubungkan sinyal geospasial dengan informasi primer di lapangan.
Proses ini umumnya mencakup pengumpulan data terstruktur di tingkat sumber— termasuk dokumentasi penggunaan lahan, pengelolaan tanah, input air, aplikasi pupuk, konsumsi energi, dan praktik budidaya—yang kemudian divalidasi secara sistematis sebelum diintegrasikan ke dalam kerangka perhitungan dan pelaporan emisi.
“Teknologi pemantauan canggih sangat kuat, tetapi dari sisi teknologi, nilainya sangat bergantung pada kualitas data yang mendasarinya,” tambah Furqonuddin.
Ground- truthing adalah penghubung antara sinyal digital dan kondisi nyata di lapangan. Dengan memvalidasi hasil satelit dan penginderaan jauh menggunakan bukti lapangan, kami memastikan data emisi cukup kuat untuk diuji oleh regulator, investor, dan pembeli.
Kombinasi antara infrastruktur digital dan verifikasi lapangan ini menjadi kunci dalam membangun sistem data iklim yang kredibel, dapat diaudit, dan dapat diskalakan di rantai pasok global.
INSIGHT PENTING
Dengan mengombinasikan pemantauan beresolusi tinggi dan data lapangan terverifikasi, perusahaan kini semakin mampu beralih dari estimasi emisi yang bersifat umum menuju strategi iklim yang lebih terarah dan dapat ditindaklanjuti.
Pendekatan terintegrasi ini memungkinkan identifikasi hotspot emisi dalam rantai pasok serta prioritisasi upaya penurunan emisi di area yang paling berdampak, sekaligus memenuhi ekspektasi regulasi dan pasar yang terus meningkat—termasuk ketentuan dalam EUDR, Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD), ISO 14068 untuk klaim karbon, serta panduan SBTi FLAG.
Lebih dari sekadar kepatuhan, akses terhadap data emisi yang kredibel memungkinkan perusahaan mendukung inisiatif pertanian regeneratif dan penyerapan karbon, sekaligus menjaga akses pasar dan kepercayaan investor melalui pelaporan yang transparan dan terverifikasi.
Kemajuan dalam pemantauan digital dan pengumpulan data lapangan kini memungkinkan perusahaan melacak emisi dan perubahan penggunaan lahan di ribuan petani dan berbagai wilayah. Apa yang sebelumnya sebagian besar tidak terlihat— khususnya di tingkat petani—kini dapat diterjemahkan menjadi wawasan praktis yang mendukung keputusan pengadaan, keterlibatan pemasok, dan investasi keberlanjutan jangka panjang.
Seiring akuntabilitas lingkungan menjadi faktor penentu daya saing, pendekatan berbasis data ini semakin dipandang bukan hanya sebagai kewajiban kepatuhan, tetapi sebagai kebutuhan strategis bagi perusahaan yang beroperasi di pasar pangan dan pertanian global.
Dengan hampir sepertiga emisi GRK global terkait dengan sistem pangan dan sekitar 82% target Net Zero perusahaan masih belum terverifikasi, tekanan terhadap perusahaan untuk menunjukkan kemajuan yang kredibel semakin meningkat.
Pemanfaatan kombinasi pemantauan digital dan verifikasi lapangan menawarkan jalur yang jelas bagi dunia usaha untuk mengambil aksi nyata—menurunkan emisi, memperkuat ketahanan, dan meningkatkan transparansi di sepanjang rantai pasok yang kompleks.
“Dengan data yang tepat dan sistem pengukuran yang kredibel, pelaku agribisnis memiliki peluang untuk memimpin transisi menuju pertanian berwawasan iklim,” ujar Manfred Borer, Chief Executive Officer dan Co-Founder Koltiva.
Menurutnya, perusahaan yang mampu mengukur, mengelola, dan menurunkan emisinya secara akurat akan menjadi tolok ukur bagi industri, sementara mereka yang gagal berisiko tertinggal seiring meningkatnya ekspektasi dari regulator, investor, dan pasar.
Ke depan, pemantauan emisi di sepanjang rantai pasok pertanian akan menuntut keselarasan dengan standar yang terus berkembang, seperti SBTi FLAG dan perhitungan Scope 3.
Integrasi analisis geospasial, data aktivitas lapangan, dan transaksi yang terverifikasi akan menjadi krusial bagi perusahaan yang ingin mengukur emisi akibat perubahan penggunaan lahan, menilai perubahan stok karbon, serta melacak kemajuan terhadap target iklim berbasis sains.












