Belajar di kelas tak lagi sebatas memahami teori. Di tangan mahasiswa Program Studi S1 Teknologi Informasi STMIK PGRI Arungbinang Kebumen (STMIK Kebumen), ruang kuliah berubah menjadi laboratorium inovasi yang melahirkan solusi digital berbasis Artificial Intelligence (AI).
Melalui pendekatan Project Based Learning (PBL), mahasiswa ditantang untuk mengidentifikasi persoalan nyata di sekitar mereka, lalu menerjemahkannya menjadi aplikasi yang dapat digunakan masyarakat. Hasilnya, lahirlah tiga aplikasi berbasis AI dengan fungsi yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama: memberikan kemudahan bagi penggunanya.
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah Smart Financial Planner. Dikembangkan oleh Nisrina Yumna Qurrotu’ain, aplikasi ini ditujukan bagi mahasiswa dan pelajar perantauan yang kerap menghadapi tantangan mengatur pengeluaran bulanan. Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan, aplikasi mampu menganalisis rencana anggaran pengguna, kemudian memberikan penilaian apakah pengelolaan keuangan tersebut sudah sehat atau masih perlu diperbaiki.
Di bidang pendidikan, Vicky Ardiansyah menghadirkan Ringkas AI. Aplikasi ini membantu mahasiswa dan pelajar merangkum materi pembelajaran secara otomatis sehingga proses belajar menjadi lebih cepat dan efisien. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan menyajikan inti materi menjadi salah satu kebutuhan penting bagi generasi muda.
Sementara itu, Achmad Charis Muhlasin mengembangkan NewsCraft AI, aplikasi yang mampu menghasilkan naskah berita berdasarkan topik yang dimasukkan pengguna. Tidak hanya menyusun informasi secara otomatis, aplikasi ini juga menyediakan berbagai pilihan gaya penulisan sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan penulis konten maupun industri media.
Bagi dosen pengampu mata kuliah, Ammar Fauzan, M.Kom., ketiga aplikasi tersebut merupakan bukti bahwa pembelajaran berbasis proyek mampu mendorong mahasiswa menghasilkan karya yang tidak berhenti sebagai tugas kuliah.
“Model pembelajaran berbasis proyek ini dilakukan sebagai bagian dari upaya nyata untuk mendorong mahasiswa menghasilkan solusi digital yang relevan, aplikatif, dan memberikan dampak langsung,” ujarnya.
Pendekatan ini memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menyelesaikan masalah, bekerja dalam proses pengembangan produk, sekaligus mengasah kreativitas. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga menciptakan teknologi yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Ketua STMIK Kebumen, Muhyat AS, menegaskan bahwa inovasi mahasiswa menjadi bagian dari komitmen kampus dalam menyiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi era transformasi digital.
“Melalui inovasi-inovasi ini, STMIK Kebumen membuktikan perannya bukan sekadar tempat belajar teori, melainkan inkubator teknologi yang siap melahirkan inovasi yang berdampak nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat luas,” katanya.
Sebagai perguruan tinggi teknologi informasi pertama di Kabupaten Kebumen, STMIK Kebumen terus mendorong budaya inovasi melalui pembelajaran yang berorientasi pada praktik. Kampus meyakini bahwa lulusan terbaik bukan hanya mereka yang menguasai teori, tetapi juga mereka yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan melalui teknologi.
Tiga aplikasi berbasis AI ini menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu lahir dari perusahaan teknologi besar. Dari sebuah ruang kelas di Kebumen, gagasan-gagasan segar tumbuh menjadi karya nyata yang siap memberi manfaat bagi masyarakat. Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, mahasiswa STMIK Kebumen menunjukkan bahwa mereka tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan juga penciptanya.












