Teranusantara.com, Solo – Insiden adu mulut mewarnai acara penyerahan Surat Keputusan (SK) Menteri Kebudayaan tentang Pemanfaatan Cagar Budaya Keraton Surakarta oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon kepada Kanjeng Gusti Panembahan Agung (KGPA) Tedjowulan Sasana Parasdya. Acara tersebut berlangsung di Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta, Minggu (18/1/2026).
Situasi memanas sejatinya telah terlihat sejak sebelum Menteri Kebudayaan tiba di lokasi. Berdasarkan pantauan di lapangan, gesekan pertama terjadi sekitar pukul 09.30 WIB ketika pihak kubu Paku Buwono (PB) XIV Hangabehi berupaya membuka pintu Kori Gajahan yang terkunci dari dalam.
Sejumlah abdi dalem yang datang bersama GKR Wandansari atau Gusti Moeng serta Ketua Eksekutif LDA KPH Edy Wirabhumi membawa dua tangga untuk memanjat gerbang dan membuka kunci dari dalam. Setelah pintu berhasil dibuka, rombongan Gusti Moeng bergerak menuju Ndalem Wiworokenjo.
Namun, di tengah perjalanan rombongan tersebut diadang pihak kubu PB XIV Hamangkunegoro, yakni GKR Panembahan Timoer Rumbay, GKR Devi Lelyana, dan GKR Dewi Ratih Widyasari. Ketiganya melarang rombongan melanjutkan langkah sehingga terjadi adu mulut yang berujung pada keributan disertai aksi saling dorong.
Aparat kepolisian yang berjaga sejak pagi segera bertindak mengamankan situasi. Keributan pun mereda dan rombongan Gusti Moeng kembali menuju Sasana Parasdya, lokasi digelarnya acara penyerahan SK.
Sekitar pukul 10.50 WIB, Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersama Wali Kota Solo Respati Ardi tiba di Keraton Surakarta. Keduanya langsung menuju Sasana Parasdya. Acara resmi dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan sambutan dari Wali Kota Solo.
Namun, ketika Respati Ardi hendak menyampaikan sambutan, ibunda PB XIV Hamangkunegoro, GKR Pakubuwana, tiba di lokasi didampingi GKR Panembahan Timoer Rumbay. Keduanya kemudian menempati kursi di barisan terdepan tamu undangan.
Ketegangan kembali terjadi saat Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan sambutan dan hendak menyerahkan SK kepada KGPA Tedjowulan yang ditunjuk sebagai pelaksana pemanfaatan cagar budaya. GKR Panembahan Timoer secara tiba-tiba naik ke podium dan menyampaikan keberatannya.
“Assalamualaikum bapak, maaf saya ingin menyampaikan keberatan. Mohon maaf, tolong mic-nya supaya banyak yang bisa dengar, karena saya punya hak di sini sebagai warga negara Indonesia,” ucap Gusti Timoer. Pernyataan tersebut langsung disoraki sejumlah abdi dalem dan anggota Pokoso yang meminta dirinya turun dari podium.
Suasana pun kembali ricuh. Sejumlah abdi dalem merangsek maju dan berupaya memaksa Gusti Timoer meninggalkan lokasi karena dinilai mengganggu jalannya acara. Adu mulut kembali terjadi antara kubu PB XIV Hangabehi dan PB XIV Hamangkunegoro.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon berusaha menenangkan situasi dan sempat berbicara langsung dengan Gusti Timoer. Ia menjanjikan akan membuka ruang dialog dengan seluruh pihak setelah acara selesai. Setelah itu, Gusti Timoer bersama GKR Pakubuwana meninggalkan lokasi dan acara ditutup dengan doa.
Baca Juga : Wamen Transmigrasi Tinjau Demplot Pertanian dan Perikanan di BPPMT Pekanbaru
Ditemui seusai acara, Fadli Zon berharap konflik internal Keraton Surakarta dapat segera diselesaikan karena berpotensi menghambat proses revitalisasi keraton yang akan dilakukan pemerintah.
“Tadi kan Gusti Timoer juga menginginkan adanya komunikasi dengan mereka. Padahal selama ini kami juga mengundang, tetapi tidak datang. Sejak awal pemerintah kooperatif, karena itu kami menunjuk Gusti Tedjowulan sebagai pelaksana. Harapan kami, beliau bisa mengomunikasikan ini dan mengundang semua kerabat untuk duduk bersama dalam musyawarah mufakat,” ujar Fadli Zon.












