JK: Prabowo Hadapi Beban Utang dan Ancaman Perlambatan Global di Awal Pemerintahan

- Pewarta

Senin, 16 Februari 2026 - 17:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Muhammad Jusuf Kalla (Foto: Gettyimages/Tera Nusantara.com)

Muhammad Jusuf Kalla (Foto: Gettyimages/Tera Nusantara.com)

Teranusantara.com, Jakarta – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengingatkan bahwa Presiden Prabowo Subianto menghadapi tantangan ekonomi yang tidak ringan di awal masa pemerintahannya. Tantangan tersebut, menurut JK, berasal dari faktor eksternal maupun internal, termasuk beban utang yang merupakan warisan kebijakan pemerintahan sebelumnya.

Hal itu disampaikan JK dalam siniar Quo Vadis Indonesia yang dipandu mantan Duta Besar Indonesia untuk Norwegia, Todung Mulya Lubis, pada Senin (16/2/2026). Dalam perbincangan tersebut, JK yang tampil mengenakan kemeja lengan panjang abu-abu memaparkan pandangannya terkait kondisi perekonomian nasional.

“Pak Prabowo membawa warisan dari kebijakan pemerintah yang lalu. Ya, saya memang termasuk tapi yang pertama (periode) dengan Pak Jokowi. Yakni masalah utang,” ujar JK.

Berdasarkan data yang dihimpun, posisi utang pemerintah per Agustus 2024 atau dua bulan menjelang berakhirnya pemerintahan Presiden Joko Widodo mencapai Rp8.461,93 triliun atau setara 38,49 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu, posisi utang pemerintah per 31 Desember 2025 meningkat menjadi Rp9.637,90 triliun atau setara 40,46 persen terhadap PDB.

Baca Juga : MBG Dinilai Strategis Tentukan Masa Depan Bangsa

Selain kenaikan nominal dan rasio terhadap PDB, pemerintah juga dihadapkan pada kewajiban pembayaran utang jatuh tempo yang setiap tahunnya berkisar antara Rp500 triliun hingga Rp600 triliun, di luar bunga. Tak hanya itu, terdapat pula kewajiban pembayaran cicilan proyek kereta cepat sebesar Rp1,2 triliun per tahun.

Menurut JK, beban tersebut menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintahan Prabowo dalam menjaga stabilitas fiskal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, tantangan eksternal dinilai tidak kalah berat.

Ia menyoroti kondisi ekonomi global yang tengah mengalami tekanan di berbagai kawasan. Sejumlah negara besar seperti Amerika Serikat, China, Rusia, Jepang, hingga negara-negara di Eropa disebut menghadapi perlambatan bahkan kontraksi ekonomi.

Sebagai negara dengan hubungan dagang yang luas, perlambatan ekonomi di negara-negara mitra tersebut berpotensi berdampak langsung terhadap kinerja ekspor dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Memang ekonomi dunia sekarang mengalami masalah di mana-mana,” kata mantan Ketua Umum Partai Golkar itu.

Baca Juga : Bamsoet Dukung Wacana Prabowo Tata Ulang Sistem Politik dan Pemilu

JK menegaskan bahwa kekuatan ekonomi suatu negara bertumpu pada dua pilar utama, yakni pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta sektor swasta melalui investasi dan aktivitas bisnis. Ketika keuangan negara mengalami tekanan, langkah yang kerap ditempuh adalah pengurangan belanja negara.

Pengurangan belanja tersebut, lanjutnya, berimplikasi luas, termasuk pada alokasi anggaran ke pemerintah daerah. “Paling kasihan adalah kepala daerah. Pengurangan spending ini dampaknya ke mana-mana. Melemahkan daya beli,” ujarnya.

Pernyataan JK tersebut menjadi sorotan di tengah upaya pemerintah menjaga keseimbangan antara disiplin fiskal dan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah situasi global yang belum sepenuhnya pulih.

Berita Terkait

TEP 2026 IPB University, Kampus Percepat Kemajuan Kawasan Transmigrasi
Anggota Komisi I DPR RI Gavriel Novanto Sabet Pemred Award 2026, Tegaskan Pentingnya Pers yang Kredibel
Dari Ruang Kelas Lahir Inovasi: Tiga Aplikasi AI Karya Mahasiswa STMIK Kebumen
Silaturahmi ke Anggota DPR RI, Pimpinan STMIK Kebumen Paparkan Gagasan Pengembangan Kampus Berbasis Potensi Daerah
Soal Bansos, Andi Najmi: Uang Tunai Langsung Rawan Dipakai Judol
Fujifilm, Siloam Hadirkan Solusi AI Klinis Tingkatan Standar Layanan Kesehatan
Bantu Perkuat Kedaulatan Udara, Thales Serahkan Dua Radar GM403 Pertama ke Indonesia
Hadir di Rakernas Inkopontren, PRUVIU Tawarkan Solusi Antikredit Macet

Berita Terkait

Minggu, 22 Februari 2026 - 18:59 WIB

Kapolri Tegaskan Penanganan Transparan Kasus Dugaan Penganiayaan Brimob di Maluku Tenggara

Minggu, 15 Februari 2026 - 19:07 WIB

OJK Tegaskan Jual-Beli Rekening Tindak Pidana, Pelaku Terancam Penjara

Selasa, 27 Januari 2026 - 18:23 WIB

Ahok Sebut Lapangan Golf Sebagai “Tempat Negosiasi Minyak Paling Sehat dan Murah” dalam Sidang Korupsi Pertamina

Kamis, 22 Januari 2026 - 19:31 WIB

Komisi III DPR RI Nyatakan Kasus Guru Honorer Tri Wulandari di Jambi Selesai

Rabu, 21 Januari 2026 - 17:07 WIB

Dugaan Penipuan Proyek Perumahan Rp28 Miliar, Bareskrim Naikkan Kasus Bupati Sidoarjo ke Penyidikan

Selasa, 20 Januari 2026 - 14:03 WIB

KPK Tangkap Bupati Pati Sudewo dalam OTT Terkait Pengisian Jabatan Perangkat Desa

Senin, 19 Januari 2026 - 19:33 WIB

KPK OTT Bupati Pati Sudewo, Diamankan di Jawa Tengah

Minggu, 18 Januari 2026 - 12:35 WIB

RUU HAPER dan Perampasan Aset Masuk DPR, Komisi III Tegaskan Penyusunan Akuntabel

Berita Terbaru