Teranusantara.com, JAKARTA – Rencana modernisasi 1.582 kapal nelayan mendapatkan energi baru, menyusul komitmen Inggris untuk berinvestasi secara besar-besaran di sektor maritim. Namun, target produksi perikanan tangkap 2026 tak bergerak maju.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memastikan bahwa Inggris akan mendukung rencana besar Indonesia di sektor maritim, termasuk membangun 1.500 kapal ikan.
“Di bidang maritim, mereka akan dukung rencana kita untuk membangun, pertama, 1.500 kapal ikan, karena kita mau besar-besaran investasi itu,” ujar Presiden Prabowo seusai pertemuan bilateral Perdana Menteri Inggris Keir Starmer di London, Selasa (20/1/2026).
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan proyek pembangunan kapal nelayan ini diperkirakan mampu menyerap 600.000 tenaga kerja di Indonesia. Jumlah tersebut mencakup sekitar 30.000 awak kapal, termasuk di antaranya 400 ribu tenaga kerja di sektor produksi dan perakitan.
Komitmen Inggris masuk ke sektor ekonomi maritim Indonesia tersebut menjadi energi baru bagi rencana pemerintah Indonesia untuk mendorong modernisasi dan transformasi ribuan kapal perikanan dari bahan dasar kayu menjadi kapal besi.
Setidaknya, rencana tersebut disampaikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Ditjen Perikanan Tangkap hampir setahun lalu. Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Lotharia Latif mengatakan bahwa modernisasi kapal perikanan ini untuk memenuhi standar kelaikan, yaitu laik laut, laik tangkap, dan laik simpan hasil ikan yang ditangkap dalam kapal.
Menurutnya, sekitar 65% kapal perikanan di Indonesia rata rata telah berusia lebih dari 10 tahun, yang didominasi oleh kapal berbahan dasar kayu.
“Sekitar 95% kapal perikanan yang terdaftar di KKP terbuat dengan bahan utama kayu. Meski lebih murah dari segi pembiayaan, penggunaan kayu sebagai bahan baku utama pembuatan kapal dapat mengarah ke isu lingkungan, dalam hal ini adalah deforestasi dan kurang memenuhi standar kapal perikanan dunia yg baik,” jelasnya dalam keterangan resmi KKP, Rabu (12/3/2025).
Modernisasi kapal perikanan, katanya, diperlukan untuk menjawab isu lingkungan, meningkatkan persaingan global dan dapat berpengaruh pada harga jual ikan karena menerapkan cara penanganan ikan yang baik di atas kapal perikanan, ikan tetap terjaga kesegarannya dan higienis sehingga nilai jual ikan tinggi dan berdaya saing tinggi untuk pasar domestik maupun eskpor.
Menurut Latif, sudah waktunya semua pelaku usaha perikanan khususnya pelaku usaha industri perikanan secara bertahap beralih menggunakan kapal besi yang sesuai standar kapal perikanan yang aman buat awak kapal, dan menjaga kualitas ikan hasil tangkapannya sehingga punya nilai jual lebih tinggi.
Dalam perkembangannya, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP) I Nyoman Radiarta mengungkapkan bahwa institusinya berencana membangun 1.500 kapal tangkap ikan untuk nelayan secara bertahap mulai 2026 sebagai upaya meningkatkan produktivitas sektor perikanan nasional.
Menurutnya, dari total 1.582 kapal yang akan dibangun, 1.000 di antaranya berkapasitas 30 gross ton (GT). “Kapal ikan 30 GT ini nanti akan dibagi di Kampung Nelayan Merah Putih,” kata Nyoman, Senin (26/1/2026).
Ia menambahkan tahapan pembangunan kapal dimulai tahun ini dengan beberapa unit yang sudah mulai direalisasikan, kemudian berlanjut secara bertahap pada 2027 hingga 2028. Ia menyebut seluruh kapal dipastikan diproduksi di dalam negeri.
PERIKANAN TANGKAP
Meski telah merencanakan modernisasi kapal nelayan, target produksi perikanan tangkap pada tahun ini justru tak bergerak maju.
Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono di Jakarta, Senin (7/7/2025), mengatakan menargetkan total produksi perikanan nasional pada 2026 mencapai 25,84 juta ton, termasuk produksi ikan tangkap 7,8 juta ton.
“Target tersebut merupakan salah satu target utama KKP dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun Anggaran 2026.”
Adapun, Kementerian Kelautan dan Perikanan memperkirakan capaian produksi perikanan tangkap hingga 31 Desember 2025 sebanyak 7,85 juta ton. “Prognosa kami nanti di angka 7,85 juta sampai akhir Desember 2025,” ujar Latif dalam konferensi pers di Media Center KKP, Jakarta, Senin (15/12/2025).
Artinya, capaian produksi perikanan tangkap pada tahun lalu lebih tinggi dari RKAP TA 2026. Bila demikian, apa fungsinya program modernisasi kapal nelayan secara besar-besaran itu?
Ketua Umum Kesatuan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI) Hendra Wiguna mengingatkan terkait rencana pembangunan 1.582 kapal nelayan.
Hendra mengingatkan agar pemerintah memastikan kapal yang disediakan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan nelayan. “Kita tidak ingin mengulang kesalahan masa lalu, di mana kapal bantuan justru mangkrak karena biaya operasional tinggi atau sulit dioperasikan,” ujarnya, Rabu (28/1/2026).












