Teranusantara.com, JAKARTA – PT Awana Sawit Lestari di Mamuju mengekspor palm kernel expeller atau bungkil inti sawit sebanyak 3.200,63 ton tujuan China, Selasa (13/01). Volume pengapalan bahan utama pakan ternak ini sepanjang tahun lalu meningkat, namun dari sisi devisa justru susut.
Pengapalan bungkil inti sawit milik Awana Sawit Lestari menggunakan sarana angkut MV. Brother 36 dari Pelabuhan Belang-Belang, Provinsi Sulawesi Barat. Nilai devisa ekspor bungkil inti sawit tersebut mencapai US$352.068,75.
“Tentunya, eksportasi di awal tahun ini menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi serta bergeraknya roda perekonomian di daerah,” ungkap Kepala Kantor Bea Cukai Parepare Dawny Marbagia.
Menurutnya, eksportasi tersebut menyumbang penerimaan negara dari bea keluar sebesar Rp428.987.000, dan pungutan sawit sebesar Rp1.340.582.000.
Bea Cukai Parepare diketahui turut mengasistensi pelaksanaan ekspor di Pelabuhan Belang-Belang Provinsi Sulawesi Barat tersebut.
“Bea Cukai Parepare terus berkomitmen mendukung peningkatan ekspor melalui asistensi dan pendampingan bagi para pengguna jasa, memberikan layanan serta pengawasan kegiatan kepabeanan dan cukai yang responsif, transparan, dan berintegritas,” lanjut Dawny.
Melalui pendampingan dan pelayanan yang optimal, aktivitas ekspor seperti yang dilakukan PT Awana Sawit Lestari diharapkan mampu membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan penerimaan negara yang pada akhirnya kembali dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kepentingan masyarakat.
NILAI EKONOMI
Bungkil inti sawit (BIS) atau palm kernel expeller (PKE / PKM) adalah hasil samping pengolahan inti kelapa sawit setelah minyak inti sawit diekstraksi.
Kegunaannya cukup luas, terutama di sektor pakan ternak dan industri.
Pertama, bahan pakan ternak. Ini adalah penggunaan terbesar bungkil inti sawit, baik di dalam negeri maupun untuk ekspor. Bungkil inti sawit terutama digunakan sabagai bahan pakan ternak ruminansia, seperti sapi potong, sapi perah, kambing dan domba.
Sebagai sumber protein sedang (±14–18%), dan kaya serat kasar, bungkil inti sawit cocok untuk sistem pencernaan ruminansia.
Bungkil inti sawit adalah sumber energi tambahan, dan berguna untuk membantu menekan biaya pakan karena lebih murah dibanding bungkil kedelai. Tidak heran, bungkil inti sawit banyak dibutuhkan di Selandia Baru, Australia, dan Eropa untuk pakan sapi perah.
Kedua, bahan pakan unggas dan non-ruminansia. Bungkil inti sawit juga digunakan dalam jumlah terbatas untuk bahan bakan ayam dan babi.
Penggunaannya dibatasi karena serat kasar cukup tinggi, serta daya cerna lebih rendah dibanding bungkil kedelai. Penggunaanya biasanya dicampur 5–10% dalam formulasi pakan.
Ketiga, bahan baku industri. Meski Walau lebih kecil porsinya, bungkil inti sawit juga dipakai untuk bahan baku pupuk organik, kompos dan soil conditioner, bahan fermentasi (bioteknologi & riset pakan), hingga media tumbuh jamur (skala terbatas).
Keempat, mendukung industri berkelanjutan. Bungkil inti sawit adalah limbah hasil samping industri sawit. Dengan memanfaatkannya berarti mengurangi limbah pabrik, dan mendukung konsep ekonomi sirkular.
PASAR EKSPOR
China adalah salah satu pasar ekspor bungkil inti sawit Indonesia, di samping Selandia Baru yang merupakan pasar utama. Bungkil inti sawit juga dipasarkan ke Korea Selatan, negara-negara Asia Tenggara, Eropa, hingga Amerika Serikat (AS).
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, ekspor bungkil inti sawit (kode HS 2306.60) Indonesia sepanjang 2025 meningkat 4,9% dibandingkan dengan tahun sebelumnya 4,52 juta ton menjadi sebanyak 4,74 juta ton.
Akan tetapi, kinerja ekspor tersebut susut dari sisi perolehan devisa. Nilai ekspor pada 2025 turun 6,6% dibandingkan dengan tahun sebelumnya US$622,02 juta menjadi hanya US$580,66 juta. Hal ini lantaran harga bungkil inti sawit yang melemah.
Seiring dengan hal tersebut, ekspor ke Selandia Baru melejit 44,7% dibandingkan dengan tahun sebelumnya 1,16 juta ton menjadi 1,67 juta ton. Peningkatan volume pengapalan yang signifikan ini mendongkak nilai ekspor 30,5% dari US$160,64 juta menjadi US$209,58 juta.
Adapun pengapalan ke China hanya meningkat 1,3% dari 457,953 ton menjadi 463.876 ton. Oleh karena peningkatan yang tipis ini, nilai devisa yang diraup susut 13,6% dari US$62,75 juta menjadi hanya US$54,19 juta.












