Teranusantara.com, Yogyakarta — Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan masyarakat bahwa ancaman siber di era kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) semakin nyata dan langsung menyasar kehidupan sehari-hari warga, mulai dari rekening bank, identitas pribadi, hingga perangkat digital yang digunakan.
Menurut Nezar, pola serangan siber saat ini telah berkembang pesat dan tidak lagi selalu mengandalkan kelalaian pengguna. Pemanfaatan teknologi AI memungkinkan serangan terjadi tanpa interaksi korban sama sekali.
“Sekarang ada zero click attack. Cukup pesan masuk, malware sudah bisa bekerja tanpa perlu diklik,” ujar Nezar Patria dalam keterangannya terkait Workshop Cybersecurity di BPSDMP Komdigi Yogyakarta, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (31/1/2026).
Ia menjelaskan, AI membuat serangan siber berlangsung jauh lebih cepat dan masif. Melalui sistem otomatis, pelaku kejahatan dapat memindai jutaan sistem dalam waktu singkat untuk kemudian memilih target yang bernilai tinggi.
Baca Juga : Airlangga: Pemerintah Tak Toleransi Saham Gorengan, Pelaku Siap Ditindak
Nezar mengungkapkan, berdasarkan data Boston Consulting Group (BCG) Desember 2025, laju perkembangan serangan siber saat ini melampaui kemampuan pertahanan digital. Kondisi tersebut membuat masyarakat kerap menjadi korban tanpa menyadari adanya serangan.
Selain menyasar sistem teknologi, kejahatan siber berbasis AI juga menyerang sisi psikologis dan emosional korban. Teknologi deepfake memungkinkan pemalsuan wajah dan suara seseorang secara meyakinkan sehingga penipuan terasa sangat personal.
“Wajah dan suara bisa ditiru. Banyak korban tertipu karena merasa berinteraksi dengan orang yang mereka kenal,” jelasnya.
Lebih lanjut, Nezar menyoroti melemahnya sistem perlindungan konvensional, termasuk penggunaan kata sandi. Perkembangan AI dan riset komputasi kuantum dinilai membuat metode keamanan lama semakin kehilangan relevansinya.
“Password yang kita pakai hari ini pada akhirnya bisa menjadi tidak bermakna. Dunia sedang menuju era pasca-kuantum,” katanya.
Nezar menegaskan, selama perangkat saling terhubung, tidak ada ruang yang benar-benar aman di dunia digital. Ancaman dapat datang dari ponsel, aplikasi, hingga perangkat sederhana yang terkoneksi ke jaringan.
“Selama kita terkoneksi, tidak ada kata aman di ruang digital,” tegasnya.
Baca Juga : Kejahatan Tumbuh di Balik Jeruji, DPR Soroti Gagalnya Kontrol Negara atas Lapas
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital mendorong penerapan pendekatan security by design, yakni menjadikan keamanan sebagai bagian inti sejak tahap awal pengembangan sistem, bukan sekadar respons setelah terjadi serangan.
“Keamanan siber bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal kebiasaan, kesadaran, dan kepemimpinan,” pungkas Nezar.
Melalui penguatan talenta digital, arsitektur keamanan, serta peningkatan literasi publik, Kemkomdigi menegaskan komitmen negara dalam melindungi masyarakat di ruang digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan artifisial.












