Petani Nanas Kampar Keluhkan Status Lahan, Wamen Transmigrasi Siapkan Solusi Reforma Agraria

- Pewarta

Minggu, 18 Januari 2026 - 22:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wamen Transmigrasi menerima keluhan petani nanas di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. (Foto: Tera Nusantara.com)

Wamen Transmigrasi menerima keluhan petani nanas di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. (Foto: Tera Nusantara.com)

Teranusantara.com, Riau — Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menerima keluhan petani nanas di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, terkait kepastian status lahan garapan. Keluhan itu disampaikan langsung oleh petani nanas, Sendo Naminrova, saat dialog di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru, Kamis (17/1/2026).

Sendo mengungkapkan, di desanya terdapat sekitar 108 hektare lahan potensial untuk budidaya nanas. Namun, lahan yang ia kelola bukan milik pribadi, melainkan milik pihak lain yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali.

“Lahan itu bukan milik saya, hanya diberi izin mengelola,” ujarnya.

Pria berusia 61 tahun itu menyebut, di Desa Rimbo Panjang terdapat 38 petani nanas. Dari satu hektare lahan, petani mampu menghasilkan sekitar 19.000 buah nanas dengan harga jual Rp6.000 per buah.

“Dari nanas inilah kami bisa menyekolahkan anak-anak,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Viva Yoga menyatakan pemerintah melalui Kementerian Transmigrasi memiliki mandat dari Presiden Prabowo Subianto untuk menjalankan reforma agraria. Salah satunya melalui program transmigrasi karya nusa atau transmigrasi lokal yang memberikan akses kepemilikan tanah kepada masyarakat.

Baca Juga : Wamen Transmigrasi Tinjau Demplot Pertanian dan Perikanan di BPPMT Pekanbaru

“Tanah yang diberikan bukan sekadar lahan, tetapi juga sebagai sumber ekonomi untuk meningkatkan pendapatan rakyat,” ujar Viva Yoga.

Ia menambahkan, masyarakat yang belum memiliki lahan dapat mengikuti program transmigrasi yang disiapkan pemerintah.

Viva Yoga juga mengapresiasi Kabupaten Kampar sebagai sentra produksi nanas di Riau. Ia menyebut terdapat tiga desa utama penghasil nanas dengan luas lahan mencapai ribuan hektare, yakni Desa Rimbo Panjang, Pagaruyung, dan Kualu Nenas.

Untuk mendorong nilai tambah komoditas tersebut, BPPMT Pekanbaru menggelar Festival Nanas bertema Pengembangan Komoditas Nanas sebagai Produk Unggulan di Kawasan Transmigrasi. Festival itu menampilkan berbagai produk olahan nanas seperti sirup, dodol, keripik, serta aneka jajanan tradisional.

Sebagai bentuk keseriusan pengembangan komoditas nanas, Kementerian Transmigrasi meresmikan Pusat Edukasi Nanas Moris yang berlokasi di area belakang BPPMT Pekanbaru.

“Hari ini kita resmikan Pusat Edukasi Nanas Moris sebagai bagian dari rencana pengembangan rumah produksi nanas,” kata Viva Yoga.

Usai peresmian, Viva Yoga didampingi Kepala BPPMT Pekanbaru Ahmad Syahir melakukan penanaman bibit dan panen nanas. Menurut Viva Yoga, nanas memiliki nilai ekonomi tinggi karena buah dan daunnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk, mulai dari sirup, wine, pupuk, kosmetik, bioetanol, hingga serat kain.

“Banyak nilai ekonominya dari membudidayakan nanas,” ujarnya.

Keberadaan pusat edukasi ini juga ditujukan untuk melatih calon transmigran dalam budidaya nanas. Mereka nantinya akan ditempatkan di berbagai kawasan transmigrasi di Indonesia.

“Pengembangan nanas secara menyeluruh akan menjadi bagian penting dalam penguatan ekonomi masyarakat,” ujar mantan Presidium MN KAHMI tersebut.

Baca Juga : Rano Karno Buka Pelatihan Dasar untuk 2.519 CPNS DKI Jakarta Tahun 2026

Sementara itu, Ahmad Syahir menyatakan nanas merupakan tanaman adaptif yang bisa tumbuh di lahan tandus, gersang, gambut, maupun tanah kurang subur.

“Kami akan mengembangkan nanas di seluruh wilayah kerja BPPMT Pekanbaru yang meliputi Pulau Sumatera, Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau,” katanya.

Ia menegaskan, nanas ditetapkan sebagai produk unggulan sekaligus maskot BPPMT Pekanbaru.

Menurut Sendo, varietas nanas moris memiliki sejumlah keunggulan, antara lain rasa manis, aroma harum, tahan hama, serta mampu bertahan hingga satu minggu setelah dipanen.

Berita Terkait

Fujifilm, Siloam Hadirkan Solusi AI Klinis Tingkatan Standar Layanan Kesehatan
Bantu Perkuat Kedaulatan Udara, Thales Serahkan Dua Radar GM403 Pertama ke Indonesia
Hadir di Rakernas Inkopontren, PRUVIU Tawarkan Solusi Antikredit Macet
Prabowo Subianto Akui Ada Pejabat Mengecewakan
Akses Informasi Ditutup, SPPG Muhammadiyah Banyuwangi dan Korwil MBG Disorot Swara Milenial
Geger Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswi Indonesia di Yordania, HPMI Keluarkan Pernyataan Sikap Tegas
Kemensos dan BGN Matangkan Skema Makan Bergizi Gratis untuk Lansia dan Disabilitas
Komisi VIII DPR RI Serap Aspirasi dan Awasi Penyaluran Bansos di Batam

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 19:40 WIB

Cek Mitos atau Fakta, Uji Emisi Bikin Konsumsi Bensin Semakin Irit?

Kamis, 21 Mei 2026 - 20:08 WIB

Hino Serahkan Unit Bus RM280 ABS ke PO PHD Trans di Ajang Busworld Southeast Asia 2026

Senin, 18 Mei 2026 - 17:41 WIB

Maksimalkan Uptime Pelanggan, Hino Tingkatkan Dealer di Yogyakarta

Kamis, 29 Januari 2026 - 04:50 WIB

Quality Update, Suzuki Grand Vitara Berpotensi Alami Masalah Komponen

Rabu, 28 Januari 2026 - 08:04 WIB

Cuaca Ekstrem, Mobil SUV Makin Menjadi Pilihan

Rabu, 28 Januari 2026 - 07:57 WIB

Tambah Diler, Mitsubishi Motors Penetrasi Pasar Sulawesi

Jumat, 23 Januari 2026 - 15:46 WIB

Ekspansi! Jaecoo Resmikan Diler Mobil Semarang

Jumat, 23 Januari 2026 - 15:22 WIB

Mitsubishi Motors Gelar Kontes Diler 2025, Simak Para Pemenangnya

Berita Terbaru