Teranusantara.com, Jakarta – Kementerian Sosial (Kemensos) bersama Badan Gizi Nasional (BGN) terus mematangkan skema pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas. Upaya ini dilakukan guna memastikan program tersebut berjalan efektif, tepat sasaran, serta mampu menjangkau kelompok rentan di seluruh wilayah Indonesia.
Hal itu terungkap dalam pertemuan antara Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul dengan Kepala BGN Dadan Hindayana di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Rabu (25/2/2026). Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas konsep, mekanisme kerja sama, hingga pola distribusi makanan bergizi bagi penerima manfaat.
“Alhamdulillah hari ini saya berkoordinasi dengan Kepala BGN Prof Dadan untuk mematangkan makan bergizi gratis khusus untuk lansia dan penyandang disabilitas. Saya bersyukur karena konsepnya makin matang dan sudah ketemu kira-kira bagaimana bentuk kerja samanya,” ujar Gus Ipul.
Program MBG bagi lansia dan penyandang disabilitas ini merupakan pengembangan dari program Permakanan yang selama ini dijalankan Kemensos. Selama ini, bantuan makanan siap santap disalurkan melalui pendamping sosial dan kelompok masyarakat (Pokmas) di daerah. Ke depan, skema MBG nasional akan dipadukan agar jangkauan layanan semakin luas dan standar gizinya lebih terukur.
Baca Juga : MBG Dinilai Strategis Tentukan Masa Depan Bangsa
Gus Ipul menjelaskan, penyediaan makanan akan memanfaatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) milik BGN yang tersebar di berbagai daerah. Sementara itu, penjangkauan kepada penerima manfaat tetap dilakukan melalui mekanisme layanan sosial Kemensos yang telah berjalan.
“Nanti yang melayani tetap SPPG, sementara yang mengantar nanti dari Pokmas atau dari caregiver,” jelasnya.
Sasaran utama program ini adalah lansia dan penyandang disabilitas yang tercatat dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), khususnya kelompok desil 1 hingga 5. Prioritas diberikan kepada lansia rentan dan penyandang disabilitas berat yang memiliki keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari.
Sementara itu, Kepala BGN Dadan Hindayana menilai sinergi tersebut akan mempermudah jangkauan layanan bagi kelompok rentan. Menurutnya, jaringan SPPG yang tersebar di berbagai wilayah akan menjadi tulang punggung penyediaan makanan bergizi.
“Saya kira apa yang sebenarnya jadi tugas Mensos selama ini dengan hadirnya SPPG di setiap wilayah itu akan dipermudah, karena SPPG ada di setiap wilayah di Indonesia di radius rata-rata 4 kilometer,” ujarnya.
Baca Juga : Ahmad Yohan: Perikanan Budidaya Dinilai Jadi Pilar Ketahanan Pangan Nasional
Ia menambahkan, pembagian peran antara BGN dan Kemensos akan membuat proses penyediaan hingga distribusi makanan berjalan lebih efektif dan efisien. Penyediaan makanan dilakukan oleh SPPG, sementara distribusi ke penerima manfaat tetap melibatkan Pokmas dan caregiver.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico, jajaran staf khusus dan tenaga ahli Menteri Sosial, serta Tenaga Ahli BGN Arief Nur Rakhman. Pemerintah berharap, sinergi ini dapat memperkuat perlindungan sosial sekaligus meningkatkan kualitas gizi lansia dan penyandang disabilitas di Indonesia.












