Teranusantara.com, Semarang – Anggota Komisi VII DPR RI, Erna Sari Dewi, menyatakan optimisme tinggi terhadap masa depan industri jamu nasional, khususnya di Jawa Tengah. Pernyataan itu disampaikan usai kunjungan kerjanya ke PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk., Semarang, Jumat (23/1/2026).
Erna menilai kekayaan sumber daya alam Jawa Tengah menjadi modal besar untuk pengembangan industri jamu berbasis bahan baku lokal. Menurutnya, ketersediaan bahan baku yang melimpah dan keterlibatan petani lokal menunjukkan ekosistem industri jamu yang sehat dan berkelanjutan.
“Saya yakin dan percaya, karena luar biasa kekayaan yang ada di Jawa Tengah ini. Sumber dayanya luar biasa. Bahkan bahan-bahan bakunya cukup dipenuhi oleh petani-petani lokal di sini, yang memang dibina langsung oleh produsennya,” ujar politikus Fraksi Partai NasDem tersebut.
Baca Juga : Menkop Dorong Koperasi Pesantren Jadi Motor Penggerak Ekonomi Desa Syariah
Lebih jauh, Erna menekankan pola pembinaan yang dilakukan produsen jamu besar membuka peluang lahirnya produsen jamu baru dari daerah, sekaligus memperkuat daya saing produk jamu Indonesia di pasar global.
“Saya yakin Jawa Tengah akan menghasilkan produsen-produsen jamu yang lebih banyak lagi, dan tentu bisa mengekspor lebih banyak lagi. Tadi kita lihat sudah ekspor ke beberapa negara, dan ini artinya peluang pasar masih terbuka lebar untuk negara-negara lain yang menggunakan produk biofarmaka Indonesia,” jelasnya.
Erna juga mengapresiasi peran PT Sido Muncul yang dianggap tidak mematikan pelaku usaha kecil, melainkan memberdayakan produsen jamu skala mikro agar tumbuh bersama industri besar.
“Saya melihat Sido Muncul ini meng-hire dan melibatkan produsen jamu kecil dan mikro secara bersama-sama untuk memajukan produk jamu Jawa Tengah. Dengan adanya satu industri besar, mereka justru mengayomi yang lain. Ini yang kita butuhkan,” tegasnya.
Baca Juga : Pemkab Tegal Tetapkan Tanggap Darurat 14 Hari Pasca Banjir Bandang Guci
Politisi asal Jawa Tengah itu berharap model kemitraan seperti ini bisa direplikasi oleh industri lain, sehingga pengembangan sektor manufaktur nasional tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pemerataan kesejahteraan masyarakat.












