Teranusantara.com, Jakarta – Kementerian Ekonomi Kreatif memperkuat kualitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui peningkatan kompetensi juru masak lewat kegiatan MASAMO (Masak Bersama Master Chef). Program ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan standar kuliner nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan, program MASAMO tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dapur MBG, tetapi juga mendorong keterlibatan industri kreatif dalam penguatan standar kuliner nasional.
“Melalui MASAMO, kita memperkuat SDM dapur MBG sekaligus mendorong keterlibatan industri kreatif dalam peningkatan standar kuliner nasional yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Riefky dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin.
Ia menambahkan, Presiden Prabowo Subianto mengamanatkan Kementerian Ekraf untuk mendorong kebangkitan industri kreatif berbasis kekayaan intelektual di seluruh daerah sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional. Dari 17 subsektor ekonomi kreatif, kuliner menjadi salah satu prioritas utama.
Baca Juga : Komisi VII DPR Sambut Positif Diskon Tiket Pesawat 17-18 Persen
Program MASAMO hadir sebagai strategi konkret untuk meningkatkan kapasitas juru masak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melalui pendampingan langsung bersama chef profesional. Pendampingan ini bertujuan memastikan kualitas dan variasi menu, standar kebersihan, serta kandungan gizi dan protein sesuai ketentuan Badan Gizi Nasional.
Kegiatan MASAMO kali ini digelar di SPPG Rajabasa 3, Lampung, hasil kolaborasi antara Kementerian Ekraf, Pemerintah Provinsi Lampung, Pemerintah Kota Metro, Badan Gizi Nasional, pengelola dan juru masak SPPG, serta dukungan industri perlengkapan dapur nasional Oxone.
Sebanyak 50 juru masak SPPG mengikuti pelatihan intensif yang dirancang untuk meningkatkan profesionalisme dan kualitas layanan dapur MBG. Pelatihan menghadirkan pelatih program MASAMO sekaligus Juri MasterChef Indonesia, Norman Ismail.
Materi pelatihan meliputi keamanan pangan, personal hygiene, pengelolaan bahan baku, penyimpanan makanan matang, penerapan prinsip Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP), serta teknik memasak sehat dan optimalisasi pengelolaan dapur komunitas.
Menurut Riefky, penguatan kapasitas juru masak menjadi kunci keberhasilan Program MBG. Saat ini, program tersebut telah menjangkau sekitar 65 juta penerima manfaat secara nasional melalui lebih dari 21.897 unit SPPG.
“Tahun ini ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 83 juta penerima manfaat dengan lebih dari 36.600 unit SPPG di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Baca Juga : JK: Prabowo Hadapi Beban Utang dan Ancaman Perlambatan Global di Awal Pemerintahan
Ia menegaskan, MBG bukan sekadar program pemenuhan gizi bagi anak sekolah, ibu hamil, dan balita, tetapi juga instrumen strategis untuk menjaga kualitas asupan gizi secara konsisten di seluruh daerah.
Lampung dinilai memiliki potensi besar pada subsektor kuliner, fesyen, kriya, dan konten digital. Sinergi antara pemerintah, akademisi, komunitas, media, pelaku usaha, dan lembaga keuangan dinilai menjadi kunci untuk mengangkat merek lokal ke pasar nasional hingga global.
Pelaksanaan MASAMO di Lampung diharapkan menjadi contoh kolaborasi multipihak dalam mendukung program nasional sekaligus menggerakkan ekonomi lokal, khususnya sektor pertanian, peternakan, perdagangan, dan jasa yang terlibat dalam rantai pasok MBG.












