Teranusantara.com, Jakarta – Menjelang libur Tahun Baru Imlek dan awal bulan suci Ramadan, Stasiun Pasar Senen dipadati penumpang kereta api jarak jauh yang hendak meninggalkan ibu kota.
Berdasarkan pantauan di lokasi hingga siang hari, suasana stasiun tampak ramai oleh calon penumpang yang membawa barang bawaan dalam jumlah cukup banyak. Sebagian besar mengaku memanfaatkan momentum libur panjang untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman sebelum memasuki Ramadan.
Lastri, salah seorang penumpang tujuan Semarang, mengatakan dirinya sengaja memilih berangkat pada hari ini untuk menghindari kepadatan yang lebih tinggi pada hari sebelumnya.
Baca Juga : Jelang Ramadan, Pramono Tegas: Tak Ada Ruang untuk Sweeping dan Razia Liar di Jakarta
“Saya mau ke Semarang, ke rumah saudara sekalian kumpul-kumpul. Baru berangkat sekarang soalnya kalau kemarin takut ramai banget. Kami juga ambil cuti kerja sampai minggu depan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Bambang (40). Ia bersama sang istri berencana pulang kampung sekaligus berlibur ke Malang, Jawa Timur.
“Sama istri saja berdua mau pulang kampung. Mumpung belum puasa, kami juga ingin liburan dulu,” katanya.
Sementara itu, arus balik diperkirakan terjadi pada akhir pekan mendatang, dengan puncak kepulangan penumpang diprediksi pada Minggu (22/2/2026).
Berdasarkan data PT Kereta Api Indonesia (KAI), tingkat okupansi penumpang pada Minggu (15/2/2026) malam sebelumnya mencapai 100 persen. Hingga saat ini belum ada rilis resmi terbaru terkait jumlah penumpang. Namun pada data terakhir, tercatat sekitar 20.000 hingga 30.000 tiket telah terjual untuk perjalanan keluar Jakarta.
Baca Juga : Pemprov DKI Larang Ormas Sweeping Rumah Makan saat Ramadan
Tiga kota tujuan favorit penumpang masih didominasi Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya.
PT KAI mengimbau masyarakat tidak khawatir karena penjualan tiket masih dibuka. Meski demikian, calon penumpang disarankan membeli tiket jauh hari serta datang lebih awal ke stasiun, mengingat akses menuju Stasiun Pasar Senen diperkirakan mengalami kemacetan akibat peningkatan mobilitas masyarakat.












